8 Hal Menjadi Pemimpin Kompeten

Menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang mudah. Ada beragam tipe pimpinan. Tetapi ada perbedaan antara pemimpin biasa dengan pimpinan yang kompeten dan diteladani. Berikut 8 hal yang menjadikan seseorang menjadi seorang pimpinan yang memang patut dijadikan teladan: Menjadi pemimpin berarti memimpin diri sendiri Membagi tugas atau menyuruh seseorang sama mudahnya seperti membagi-bagikan kartu nama. Namun pimpinan yang bijaksana tahu bagaimana harus memimpin dirinya sendiri, tak hanya memberikan contoh yang tulus di hadapan banyak orang, tetapi juga menjadi elemen yang menggerakkan bisnis. Amat penting bagi para pemimpin untuk memiliki kemampuan berfokus dan memotivasi diri sendiri sama seperti saat mereka memotivasi orang lain.

Terbuka akan cara baru untuk melakukan banyak hal

Jangan menjadi penguasa absolut Saat Anda menjadi pemimpin, kemungkinan besar Anda sudah memiliki tenaga-tenaga kerja yang berbakat di kantor. Ini hal yang sangat bagus. Tetapi berhati-hatilah, jangan sampai Anda bertingkah seperti ratu sejagat di sana. Pemimpin dadakan seringkali membuat sistem yang terlalu mengekang dan memeras bawahan dengan aturan ketat yang sebenarnya tidak perlu. Tuntun bawahan Anda, tetapi jangan mengimplementasikan batasan di luar jalur yang diperlukan. Penting untuk memengaruhi orang-orang yang bekerja bersama Anda. Jangan sampai mereka melihat Anda seperti ratu di singgasana yang sulit terjangkau dan lebih sering membuat peraturan mengekang.

Terbuka akan cara baru untuk melakukan banyak hal

Ketika Anda berhasil melakukan suatu program, tak heran Anda akan mencoba mengulang kesuksesan dengan cara yang sama. Tetapi pemimpin yang selalu ingin lebih akan mencoba hal-hal baru dan tidak terpaku melakukan hal yang sama. Ia akan mencoba cara baru sambil mengkalkulasikan keuntungannya. Jangan tertutup akan hal-hal dan cara baru untuk mengembangkan bisnis Anda.

Mencampurkan Perbedaan

Di ruang kerja, akan ada banyak perbedaan pada para pekerjanya. Para pegawai akan memiliki kelemahan dan kekuatan masing-masing. Pemimpin yang biasa-biasa saja akan membiarkan apa yang ada dan melihat masalah baru bergerak. Pemimpin yang mampu menilai kelebihan dari para pegawainya akan mau “mencampur” hal tersebut dan memanfaatkan perbedaan-perbedaan itu demi kebaikan bisnis serta kebahagiaan para pegawai yang bisa berkontribusi secara penuh terhadap perusahaan.

“Kompetisi, yakni dorongan konstan untuk bekerja lebih cepat, lebih baik, dan lebih efektif membuat kita semua bekerja lebih efektif untuk menghadapi perbedaan di kantor,” jelas konsultan karier, Susan Eckert, dari Advance Career and Professional Development, New York. Perusahaan yang menenun kekuatan dari perbedaan yang dimiliki karyawannya menjadi sebuah kekuatan yang tak terkalahkan, jelas Eckert.

Membangun rasa komitmen yang tulus

Ada banyak perusahaan yang memiliki kata-kata penguatan yang menunjukkan integritas perusahaan dan orang-orang di dalamnya. Tetapi, pada kenyataannya, tidak selalu seperti itu adanya. Ya, kata-kata itu memang berusaha menjadi semacam identitas karyawan dan perusahaan. Tetapi pemimpin yang sejati akan mampu menanamkan hal-hal tersebut ke dalam para karyawannya. Sense of belonging untuk memajukan kantor dan integritas diri dari karyawan harusnya keluar dengan cara yang tulus, bukan dengan cara menghapal kata-katanya

Menyelesaikan pekerjaannya

Kebanyakan pimpinan perusahaan mengumbarkan bagaimana cara mereka menginginkan perusahaan ini berkembang. Tetapi, sedikit yang tahu bagaimana mencapainya. Mereka yang tidak pernah tahu apa yang mereka inginkan dan cara mencapainya seringkali kebingungan di tengah jalan. Ketika ia bingung, anak buahnya pun akan kehilangan arah. Dibutuhkan sebuah gol dan tujuan yang jelas, ukuran yang bisa dipertanggungjawabkan untuk melihat keberhasilan. Kemampuan untuk menyelesaikan apa yang ia mulai adalah hal yang krusial. Percuma berencana jika tidak bisa diselesaikan.

Menunjukkan apresiasi tulus

Performa bagus harus mendapat apresiasi. Pimpinan yang memiliki fokus pada masa depan harus bisa memberikan pujian dan apresiasi sepadan kepada anak buah yang bisa memberikan lebih atau sesuai harapan. Apresiasi-apresiasi seperti promosi, kenaikan gaji, bonus, dan hal-hal apresiasi yang nyata amat dibutuhkan. Hal-hal semacam ini akan memotivasi pegawai, tak hanya untuk membangun antusiasme kerja, tetapi juga sekaligus membuat mereka tetap setia bekerja di tempat itu.

Menyadari bahwa ia perlu belajar

Sudah banyak pimpinan bisnis percaya bahwa kebijaksanaan sebagai pemimpin datang dari langit atau pencerahan. Tentu, ide original akan datang dari banyak hal. Tetapi menjadi pimpinan yang bagus juga berarti pembelajaran. Membaca buku mengenai kepemimpinan, mengikuti seminar, dan memilih rekan kerja yang cerdas untuk bertukar pikiran, apa pun itu caranya, tetapi pemimpin sejati tidak akan berhenti belajar untuk menjadi lebih baik.

Kompetensi banyak didefinisikan sebagai kumpulan dari pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku yang dimiliki oleh seseorang sehingga dapat menampilkan kinerja terbaiknya. Sementara itu, rasa kompeten lebih menyoroti aspek psikologis dari seseorang yang mana sudah memiliki rasa percaya diri untuk mengaktualisasikan semua kompetensi yang dimilikinya.

Sumber: Kompas.com



Leave a Reply

X
X